Kesediaan
untuk Mengajar dalam kelas Inklusif
Guru dalam memulai
mengembangkan dan menerapkan kelas inklusif, mereka harus dapat merespon dengan
tegas terhadap pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan inklusi. Guru dan
administrator selalu memiliki banyak pertanyaan tentang inklusi ketika mulai mengembangkan
program-program inklusi. Pertanyaan-pertanyaan mereka yang muncul sebagai berikut:
• Apa tugas mereka
ketika berada di sekolah inklusif?
• Apa dampak dari program inklusi terhadap kemajuan
siswa dengan disabilitas di bidang akademik dan sosialnya?
• Apakah dampak dari program inklusi ?
• Apakah siswa dengan disabilitas memiliki dampak
negatif pada kelas reguler?
• Apakah mereka akan
diberi waktu untuk merencanakan program inklusi ?
•Apakah mereka akan diberi pendidik khusus yang
diperlukan untuk mengembangkan program inklusif?
•Apakah
mereka akan diberi kesempatan untuk mengembangkan keahlian yang dibutuhkan untuk menjadi guru yang efektif
dalam program inklusif?
Namun, disini telah ditemukan
faktor yang paling mempengaruhi keyakinan guru tentang inklusi adalah pengalaman
langsung mereka dengan inklusi. Survei guru (Scruggs & Mastropieri, 1996)
dan pengalaman menunjukkan bahwa sebagian besar guru mendukung konsep inklusi
yaitu siswa disabilitas memiliki hak dasar untuk dididik di kelas regular.
Pengalaman menunjukkan bahwa jauh lebih banyak guru mendukung konsep inklusi
dibandingkan bersedia untuk mengajar di kelas inklusif. Tampaknya ada sedikit
keraguan para guru untuk mengajar di program inklusif karena dipengaruhi oleh pengalaman langsung mereka
dengan program ini. Dengan pemikiran ini, metode terbaik untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan guru adalah dengan cara mereka mengunjungi
sekolah-sekolah di mana program inklusif sukses dilaksanakan. Kunjungan ini
memungkinkan guru untuk mengamati kelas dan mengajukan pertanyaan dari
guru-guru lain yang memiliki pertanyaan dan keraguan yang mirip dengan mereka.
Sulit untuk mengatasi
pandangan negatif guru di sekolah inklusi, jika guru tersebut pernah
terlibat pada penerapan program inklusif yang salah. Contoh program yang salah
yaitu, siswa sama sekali tidak diuntungkan dengan program tersebut, program ini
memiliki pengaruh negatif di kelas dan guru hanya diberikan sedikit waktu untuk
melaksanakan program tersebut, selain itu guru yang ditunjuk sebagai guru di
sekolah inklusi tersebut tidak memiliki keahlian khusus untuk membuat program
inklusi sukses. Untuk mengatasi masalah ini, telah ditemukan cara yaitu
melakukan study banding ke sekolah penyelenggara program inklusi yang sukses,
namun itu masih belum cukup. Guru perlu diberi motivasi agar mereka dapat
terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, baik dalam
penyusunan program, maupun tindakan mereka saat di kelas. Mereka juga memerlukan
dukungan penuh untuk mengembangkan dan menerapkan kelas inklusif. Tentu saja,
guru perlu menerima jaminan atas keberhasilan tersebut, namun ini akan
membutuhkan usaha ekstra, terlebih pada guru yang memiliki pengalaman negatif
tentang pendidikan inklusif.
0 komentar:
Posting Komentar