Welcome

Jumat, 17 Oktober 2014



Kesediaan untuk Mengajar dalam kelas Inklusif
Guru dalam memulai mengembangkan dan menerapkan kelas inklusif, mereka harus dapat merespon dengan tegas terhadap pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan inklusi. Guru dan administrator selalu memiliki banyak pertanyaan tentang inklusi ketika mulai mengembangkan program-program inklusi. Pertanyaan-pertanyaan mereka yang muncul  sebagai berikut:
• Apa tugas mereka ketika berada di sekolah inklusif?
• Apa dampak dari program inklusi terhadap kemajuan siswa dengan disabilitas di bidang akademik dan sosialnya?
• Apakah dampak dari program inklusi ?
• Apakah siswa dengan disabilitas memiliki dampak negatif pada kelas reguler?
• Apakah mereka akan diberi waktu untuk merencanakan program inklusi ?
•Apakah mereka akan diberi pendidik khusus yang diperlukan untuk mengembangkan program inklusif?
•Apakah mereka akan diberi kesempatan untuk mengembangkan keahlian yang    dibutuhkan untuk menjadi guru yang efektif dalam program inklusif?
Namun, disini telah ditemukan faktor yang paling mempengaruhi keyakinan guru tentang inklusi adalah pengalaman langsung mereka dengan inklusi. Survei guru (Scruggs & Mastropieri, 1996) dan pengalaman menunjukkan bahwa sebagian besar guru mendukung konsep inklusi yaitu siswa disabilitas memiliki hak dasar untuk dididik di kelas regular. Pengalaman menunjukkan bahwa jauh lebih banyak guru mendukung konsep inklusi dibandingkan bersedia untuk mengajar di kelas inklusif. Tampaknya ada sedikit keraguan para guru untuk mengajar di program inklusif  karena  dipengaruhi oleh pengalaman langsung mereka dengan program ini. Dengan pemikiran ini, metode terbaik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan guru adalah dengan cara mereka mengunjungi sekolah-sekolah di mana program inklusif sukses dilaksanakan. Kunjungan ini memungkinkan guru untuk mengamati kelas dan mengajukan pertanyaan dari guru-guru lain yang memiliki pertanyaan dan keraguan yang mirip dengan mereka.
Sulit untuk mengatasi pandangan negatif  guru  di sekolah inklusi, jika guru tersebut pernah terlibat pada penerapan program inklusif yang salah. Contoh program yang salah yaitu, siswa sama sekali tidak diuntungkan dengan program tersebut, program ini memiliki pengaruh negatif di kelas dan guru hanya diberikan sedikit waktu untuk melaksanakan program tersebut, selain itu guru yang ditunjuk sebagai guru di sekolah inklusi tersebut tidak memiliki keahlian khusus untuk membuat program inklusi sukses. Untuk mengatasi masalah ini, telah ditemukan cara yaitu melakukan study banding ke sekolah penyelenggara program inklusi yang sukses, namun itu masih belum cukup. Guru perlu diberi motivasi agar mereka dapat terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, baik dalam penyusunan program, maupun tindakan mereka saat di kelas. Mereka juga memerlukan dukungan penuh untuk mengembangkan dan menerapkan kelas inklusif. Tentu saja, guru perlu menerima jaminan atas keberhasilan tersebut, namun ini akan membutuhkan usaha ekstra, terlebih pada guru yang memiliki pengalaman negatif tentang pendidikan inklusif.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 komentar:

Posting Komentar